fbpx
  • PENERIMAAN SISWA BARU INSAN CENDEKIA MANDIRI PAYAKUMBUH TP 2019/20

Berkenalan dengan Pimpinan Pesantren Insan Cendekia Mandiri

H. Hannan Putra, Lc, MA, Lahir di kota kecil Payakumbuh 9 Maret 1986. Tumbuh di keluarga sederhana dan religi. Sejak kecil sudah tampak kecintaannya belajar ilmu agama. Ketika duduk di kelas 4 SD, ia sudah memberi wirid ceramah Ramadhan. Lepas SMP, ia sudah dipercaya memberi Khutbah Idul Fitri di Pesantren Al-Kautsar Tanjung Pati. Ia juga kerap diistilahkan sebagai pewaris darah sang kakek Almarhum Buya Nashruddin Jarun yang merupakan ulama besar dari Sumatera Tengah di zaman kolonial Belanda.

Selepas menamatkan pendidikannya di MAN 2/ MAKN Payakumbuh tahun 2004, Hannan muda mendapat beasiswa untuk melanjutkan studi ke Universitas Al-Azhar Mesir. Ia memilih untuk tinggal di kota kecil Tafahna Al-Asyraf yang jauh dari hiruk-pikuk ibukota Kairo. Tujuannya, agar ia lebih fokus untuk menimba ilmu dari ulama setempat.

Bersama Dubes Qatar

Selain menuntut ilmu di bangku kuliah, ia juga berguru dengan ulama-ulama Mesir. Diantara ulama terkenal yang pernah ia datangi untuk menuntut ilmu seperti; Syaikh Wahid Abdussalam Bali (murid Syaikh Bin Baz dan Al-Utsaimin, penemu metode Ruqyah Syar’iyah), Syaikh Majdi Arafat (ahli hadis terkemuka di Mesir), Syaikh Abdul Badi’ (guru besar Fakultas Syariah Universitas Al-Azhar Mesir), dan ulama-ulama terkenal lainnya.

Di samping bertalaqqi, ia juga digembleng seorang ulama kondang asal negeri Tafahna, Syaikh ‘Imad Abu Abdillah yang setiap hari terus mengoreksi dan menerima setoran hafalan Al-Qurannya. Syaikh yang dikenal keras namun penyayang inilah yang mengawal hafalan Al-Qurannya hingga tiga tahun lamanya.

Bersama anak-anak pedalaman saat dikirim ke Walesi Papua

Di usia yang sangat muda, ia berangkat ke tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji. Selepas haji, ustadz muda yang masih 19 tahun itu juga menuntut ilmu di Masjidil Haram sembari bekerja.

Mendirikan Pesantren Insan Cendekia Boarding School (ICBS) Payakumbuh

Sepulang dari Mesir tahun 2009, warga Payakumbuh telah melekatkan panggilan Buya Muda pada dirinya. Sebagaimana kebanyakan para muballigh yang pulang kuliah, ia banyak diminta mengisi wirid pengajian di masjid-masjid. Bahkan diminta mengajar TPA/ TPSA di Masjid Baiturrahim Padang Kaduduk.

Dari sanalah bermula ide membuat sekolah bersama Ustadz H Ahmad Maududi Lc MA. Gedung TPA/ TPSA tersebut akhirnya dikontrak dan didirikan Pesantren Terpadu Insan Cendekia Boarding School (ICBS) Payakumbuh. Berikut surau/ mushalla tak terpakai direnovasi dan dijadikan asrama putra. Berdirilah ICBS di awal Maret 2010.

Membina Remaja Masjid dan Pemuda di Kota Payakumbuh

Selain mengelola pesantren sebagai kepala sekolah termuda di Sumatera Barat, Ustadz muda ini masih terus aktif mengisi wirid pengajian di masjid dan radio. Tak lama setelah itu, ia pun mendirikan radio syariah dan dakwah pertama di kota Payakumbuh.

Melanjutkan Pendidikan dan Menjadi Jurnalis

Setahun setelahnya, ustadz muda yang selalu mengaku kurang ilmu tersebut menerima tawaran beasiswa untuk melanjutkan pendidikan pascasarjana di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sembari berkuliah, ia terus aktif berdakwah melalui tulisan dan radio. Saat itu, tulisannya kerap menyita perhatian cendekiawan muslim di media online dan cetak. Akhirnya, tahun 2011 ia diminta bergabung dengan salah satu surat kabar Islam terbesar, Republika.

Kerjasama kepesantrenan dengan Sekolah Unggulan Mayasia

Selama menjadi jurnalis di Koran Nasional Republika, ia sudah malang melintang ke berbagai daerah di tanah air. Ustadz muda yang pernah menerbangkan pesawat ini juga pernah dikirim ke pedalaman Papua. Tulisannya tentang Pesantren Walesi yang berada di kaki gunung Jaya Wijaya mendapat apresiasi banyak pihak. Hingga Menteri Pendidikan di era SBY, Muhammad Noeh pun tergerak untuk berkunjung ke pesantren tersebut.

Hingga saat ini, tulisannya di Rubrik Dialog Jumat (terbit setiap hari Jumat di Koran Republika) yakni di kolom Fatwa, Fiqh Muslimah, Uswah, Wawancara, Tuntunan, Ensiklopedi Islam, dan kolom-kolom kajian Islam lainnya masih tetap bisa dinikmati pembaca setianya. Berdua dengan Imam Besar Istiqlal Jakarta Prof Dr Nasaruddin Umar, ia terus berdiskusi tentang bahan-bahan yang akan mereka tulis di Rubrik Dialog Jumat.

Lokasi ICBS Harau sebelum di bangun. Dari kiri; Ustadz
Hannan, Ustadz Ahmad Maududi, Syaikh Ahmad (Ketua
WAMY Asia Pasific), Ustadz Aang Suandi (Ketua
WAMY Indonesia).

Para Kiai di pesantren-pesantren Jawa serta beberapa Guru Besar dari Perguruan Tinggi Islam pernah memberikan apresiasi secara khusus atas tulisan-tulisan sang ustadz. Tulisan-tulisan beliau di Republika pun kerap menjadi objek penelitian dari skripsi para mahasiswa.

Kembali ke Kota Payakumbuh

Awal tahun 2014,Ustadz Hannan diminta pulang dan kembali untuk mengurus Pesantren Terpadu Insan Cendekia Payakumbuh yang ia dirikan dulu. Dengan jabatan sebagai Wakil Pimpinan Pesantren, ia kembali mengurus santri dan aktif memberikan kajian-kajian di masyarakat.

Setelah mengurus pesantren dengan santri yang hampir seribu orang ketika itu, ia pun mengakhiri masa lajangnya dengan mempersunting seorang putri Minang, Aulia Tivani dan kemudian dianugrahi sepasang buah hati Hunaina Aufa Iltizama (putri, 4 tahun) dan Abdurrahman al-Hannan (putra, 4 bulan).

Ustadz Hannan bersama mejelis guru ICBS Payakumbuh

Kajian-kajian sang Ustadz saat ini banyak mengusung tentang pola pendidikan anak di dalam Islam. Hal ini didasarkan background aktivitas beliau yang juga seorang pimpinan pesantren.

Kajian-kajian tafsir tematiknya juga sangat diminati dan ditunggu-tunggu masyarakat. Konsep dakwah yang selalu didengungkannya “mengajak kepada luasnya Islam bukan kepada sempitnya golongan”.

Aktivitas lainnya, selain diamanahkan sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Kota Payakumbuh, ia juga mendirikan Al-Azhar Centre, sebuah Yayasan yang membidangi riset dan kajian-kajian KeIslaman.

Memberikan ta’lim Kajian Kepesantrenan kepada santri

Yayasan ini beranggotakan alumnus Universitas Al-Azhar Mesir, yakni teman sama-sama berkuliah dengannya dahulu. Ia juga diminta sebagai pembimbing Travel Umrah Al-Azhar Islamic Tour (AIT) dengan ciri khasnya sendiri, yakni “Umrah Sirah Nabawiyah”. Sesuai dengan bidang beliau, yakni peniliti dan pakar dengan sejarah Islam.

Bersama Ustadz Adi Hidayat di Kampus ICBS Harau

Blog: www.kajian.icbspayakumbuh.sch.id/
facebook : www.facebook.com/hannanputra
Email: mrhannanputra@gmail.com
instagram/ twitter: @hannanputra

[fbcomments]

Related posts